Kota Pekalongan, Jawa Tengah dikenal sebagai kota batik. Kebanyakan orang pun tahu, kalau mau cari batik yang bagus ya Pekalongan tempatnya. Pun begitu, ada juga kota-kota lain yang juga memproduksi batik berkualitas, misalnya Solo dan Jogja.
![]() |
Keluarga ibu saya berasal dari Pekalongan. Bisnis batik Pekalongan bukan menjadi hal yang baru bagi saya. Maklum saja, ibu saya juga punya usaha batik Pekalongan yang dikembangkan di Jakarta. Dan sesekali, saya juga turut membantu untuk berbelanja batik di Pekalongan.
Kali ini saya tidak akan bercerita tentang batik, melainkan bercerita tentang salah satu salah satu makanan khas Pekalongan, yakni
nasi megana atau sego megono dalam pelafalan bahasa Jawa. Nasi megono ini sangat populer di Pekalongan, kalau di Jakarta bisa diibaratkan sebagai nasi uduk Betawi yang kondang itu.
Nasi megono juga biasa disajikan bersama gulai kambing
Nasi megono merupakan nasi putih yang dicampurkan dengan urap nangka. Cara memasaknya adalah dengan dikukus. Potongan kecil buah nangka bertabur parutan kelapan akan tersaji sedap di atas piring. Di kota asalnya, nasi megono biasa disajikan sebagai menu sarapan. Dan pasangan idealnya sebagai lauk adalah tahu tempe atau ayam goreng.
Di Pekalongan sendiri sangat mudah menemukan nasi megana. Setiap warung makan pasti menyediakan menu makanan ini. Dan beberapa di antara pedagang itu masih ada yang menyajikan nasi megono dengan gaya tradisional, yakni dihidangkan di atas pincuk daun pisang, ehm.. lezatnya.
Sesekali, sebagai pengobat rindu akan kampung halaman, ibu saya suka membuat sendiri nasi megono. Ditambahkan dengan emping si keripik melinjo, nasi megono buatan ibu saya itu sangat nikmat apalagi disantap ketika hangat.
Nah, kalau di antara teman-teman nanti ada yang berkunjung ke Pekalongan, jangan lupa beli batik sebagai oleh-oleh dan juga cicipi sedapnya nasi megono.
